Posted by: konserdanautoba | May 3, 2010

STOP DULU NYANYI “O TANO BATAK”

Oleh Suhunan Situmorang*)

Suhunan Situmorang

SAYA kira, kita tak usah dulu nyanyi lagu O Tano Batak ciptaan Siddik Sitompul yang sudah dianggap macam ‘lagu kebangsaan’ Bangso Batak itu. Juga berhenti dulu mendendang O Tao Toba dan Pulo Samosir gubahan Nahum Situmorang yang legendaris itu. Bila perlu, segala tembang yang berkisah tentang alam Tano Batak, disisih dulu untuk sementara waktu.

Ketimbang menimbulkan suara sumbang yang menghamburkan ironi, daripada jadi lagu pengiring untuk sejumlah tragedi, juga supaya tak semakin mempertegas tuduhan bahwa orang Batak itu penuh kontradiksi, alangkah baiknya dihindari dulu.

Mari pula berjiwa besar mengakui bahwa kita orang Batak, tertinggal jauh dari saudara kita orang Minang dalam hal kepedulian pada tanah leluhur atawa kampung halaman. Sejauh-jauh mereka merantau tiada akan lupa pada kampung asal, sementara yang berdiam di ranah Minang berusaha merawat alam, tradisi, adat-istiadat, rumah gadang, dan surau. Meski “hanya” tukang jahit di pasar Blok M atau pedagang nasi di tepi jalan Tanah Abang, mereka setia menyisihkan rupiah yang susah-payah dicari demi membangun kampung atau membantu sanak-saudara di tanah asal. Mereka tetap menjalin komunikasi dan akan sigap manakala dimintai bantuan dan tak cuma senang menembangkan Kampuang Nan Jauh di Mato, tapi berupaya agar tak jadi si Malin Kundang.

Kita, orang Batak? Entah kenapa, kian memprihatinkan dalam banyak hal. Bila tak tercerabut dari akar budaya, enggan disebut Batak, mereka yang masih kuat kebatakannya malah semakin miskin kepedulian pada Bona Pasogit. Berbagai persoalan di seantero wilayah Tano Batak dianggap sepi oleh para perantau. Parahnya lagi, “penyakit” tak peduli, egoisme, ‘imbalanisme’, sudah menjalar hingga masyarakat yang tinggal di huta. Perkumpulan marga atau huta di perantauan pun lebih berupa wadah untuk mengurusi kepentingan adat belaka dan nostalgia.

Sangat jarang terdengar ada persatuan marga atau huta yang peduli memikirkan dan lalu melakukan suatu tindakan yang berarti untuk membantu warga di kampung. Belum pernah kita dengar tokoh-tokoh marga di parserahan menggalang anggota untuk menyikapi problema yang menimpa masyarakat di Tano Batak akibat dekadensi moral dan semakin terkikisnya nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Belum pernah terdengar sikap tegas paguyuban marga atau huta menyikapi kehancuran alam akibat pembabatan hutan yang dilakukan perusahaan pulp (dan rayon), yang selain merusak alam, juga telah memenderitakan saudara-saudara kita yang tinggal di Tobasa, Humbang, Samosir, Taput, Tapsel.

Orang-orang Batak yang berdiam di perantauan seperti tak ada kaitan dengan bumi Tano Batak yang sudah porakporanda karena ulah korporasi raksasa dan juga para pembalak hutan yang didukung pejabat dan aparat penegak hukum di kabupaten dan provinsi. Emosi kita pun datar saja saat menyaksikan berita di tv ratusan ibu petani haminjon (kemenyan) Humbang Hasundutan meraung-raung karena buldozer perusahaan pulp itu membabati hutan Pandumaan, yang selama ratusan tahun jadi sumber utama nafkah orang sana. Selama belasan tahun rakyat Porsea dan sekitarnya yang menolak pabrik pulp (dan rayon) itu dibiarkan menderita, tak menggugah nurani para Batak perantau yang jumlahnya jutaan orang.

Tragisnya, yang terjadi malah konflik horisontal antara orang Batak yang menentang dan mendukung, yang dengan licik dimanfaatkan pemegang saham dan eksekutif perusahaan tersebut. Kenapa bisa demikian?

Mereka, para penghancur hutan yang sudah dirasuki semangat kapitalisme tanpa kendali itu, paham betul karakter dan sifat orang Batak sekarang yang bukan lagi macam yang dulu. Mereka tahu persis, sekarang ini kebanyakan orang Batak lebih terpesona pada harta dan kuasa, dan puncak pencarian hanya sebatas bagaimana mengamankan keluarga dan keturunan, seraya membangun modal agar kelak turut menghuni sorga hingga masih taat beribadah.

Tak masuk akal mereka membangun solidaritas, tak terpikirkan mereka memikirkan derita warga dan alam Bonapasogit, apalagi untuk mengecam pejabat yang terindikasi korup dan perusak alam karena alasan: masih ada hubungan marga atau kekerabatan.

Sikap tak peduli macam itulah yang menimbulkan bencana Kamis malam lalu ketika air bah yang menggelindingkan batu-batu besar dan sisa gelondongan pohon, menerjang warga Sabulan-Rassang Bosi, dengan korban lima jiwa. Perusahaan bernisial TPL itu dibiarkan terus menggunduli hutan Register 41 Huta Galung di atas kampung-kampung yang kena bencana tersebut, yang sebenarnya masuk area hutan lindung. Diperkirakan, sekitar 26.752 Ha sudah habis digunduli, juga oleh pembalak liar yang ditengarai dibeking penguasa dan aparat hukum kabupaten Samosir.

Pembabatan hutan alam sepanjang Tele-Humbang yang amat khas alam Tano Batak itu sudah lama dicemaskan ahli lingkungan akan menerjang wilayah-wilayah sepanjang Tipang-Janji Raja-Sabulan-Tamba-Sihotan

g-Harianboho-Sianjurmulamula. Tak mustahil desa-desa di tepian Danau Toba itu akan lenyap suatu saat, menyeret ribuan warga ke danau.

Bisa saja memang kita tak peduli karena tak berada di area tersebut, namun sebaiknya tak usah lagilah ikut-ikutan nyanyi lagu O Tano Batak, O Tao Toba, Pulo Samosir, untuk sementara waktu. Bukan apa-apa, malu pada alam dan para leluhur kita.***

* Dimuat di koran Batak Pos, Sabtu 1 Mei 2010

*) Suhunan Situmorang, seorang Lawyer, Novelis dan pemerhati kebudayaan Batak tinggal di Jakarta.

Responses

  1. Apakah ajakan yang analog berikut ini juga perlu kita “ultopkan”?

    * Stop dulu menyanyikan “Buku Ende”, terutama dari “Haluaon Na Gok”! Toh perilaku kita, setelah secara khusuk menyanyikannya saat ikut kebaktian, lebih sering tidak merujuk kepada keindahan dan keagungan lagu-lagu pujian tersebut.

    * Stop dulu menyanyikan “Indonesia Raya, toh kemakmuran masyarakat kita tidak berkorelasi positif dengan syair lagu kebanhgsaan tersebut.

    Menurut saya ajakan seperti ini, walau saya bisa memahami keprihatinan yang ingin dikemukakan, terlalu ekstrim.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: